| Frustasi |
|
Berbagai hambatan, baik eksternal maupun internal, dapat mengganggu usaha seseorang untuk mencapai tujuannya. Lingkungan fisik, menimbulkan hambatan seperti kemacetan lalu lintas, antrian di supermarket atau stasiun kereta, musim kemarau yang menimbulkan kekeringan dan keributan yang mengganggu konsentrasi. Lingkungan sosial menimbulkan hambatan dalam bentuk larangan yang ditetapkan orang lain, sampai pada masalah diskriminasi sosial dan diskriminasi seksual. Namun terkadang, hambatan bisa juga datang dari keterbatasan individu itu sendiri, seperti cacat tubuh, ketiadaan kemampuan tertentu dan lain sebagainya. Sumber utama frustasi adalah konflik antara dua motif yang bertentangan. Apabila dua motif saling bertentangan, kepuasan motif yang satu akan menimbulkan frustasi motif yang lain. Misalnya, seseorang yang ingin sekali menikah dengan seorang pria, namun pria tersebut sudah mempunyai istri. Dalam hal ini, jika sang wanita tetap nekat untuk menikahi pria beristri tersebut, maka sang wanita akan mengalami kepuasan, sedangkan istri sang pria, akan mengalami frustasi / stress. Secara, wanita mana sih yang benar-benar mau dimadu?! Kebanyakan konflik, melibatkan tujuan yang menyenangkan sekaligus tidak menyenangkan. Contoh lain yang lebih sederhana, apabila kita diajak teman untuk mencoba bungee jumping. Tentu untuk pertama kalinya, kita akan merasa sangat senang, kita akan berpikir, “kapan lagi bisa mencoba sesuatu yang akan begitu memacu adrenalin?!”. Faktor tidak menyenangkan, tentunya akan muncul setelah kita menyadari, betapa berbahayanya bungee jumping tersebut. Bisa saja kita pingsan ditengah “terjun bebas” itu, atau yang lebih parah, bisa-bisa kita langsung mati karena jantung yang pecah akibat kekagetan dan pacuan adrenalin yang begitu tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat konflik yang barada diantara rasa frustasi / stress ini. Konflik tersebut biasa disebut konflik mendekat-menghindar atau bahasa kerennya approach-avoidance conflict ( Rita L. Atkinson, dkk dalam Pengantar Psikologi Jilid 2 ). Tujuan yang menyenangkan sekaligus tidak menyenangkan, akan menimbulkan respons mendekat atau menghindar. Kedua kecenderungan tersebut meningkat ketika mendekati objek. Semakin dekat jarak dengan objek yang menarik, semakin kuat pula dorongan untuk mendekat. Sedangkan semakin dekat dengan objek yang tidak menyenangkan, semakin kuat dorongan untuk menghindar / meninggalkannya. Tapi tampaknya motif menghindar merosot lebih cepat sesuai dengan jarak dibandingkan motif mendekat. Semakin jauh jarak dari objek yang ditakuti, semakin tidak menakutkan objek tersebut. Tapi objek yang menyenangkan tetap menarik pada jarak tertentu. Contoh lain yang biasa terjadi
adalah ketika seseorang putus dari pacarnya. Mengapa putus? Alasan yang terucap
pertama kali adalah karena ketidak cocokan antara keduanya. Namun setelah
beberapa saat, mereka “rujuk” atau balikan lagi. Kok balikan? Alasannya karena
mereka saling merasa kesepian dan kehilangan dengan pacarnya itu. Setelah
beberapa waktu lagi, mereka putus lagi ( cocok banget sama lagunya BBB – putus
nyambung, hehehehehe ). Kenapa lagi? Ya karena alasan yang pertama tadi, tidak
ada kecocokan. Begini yang terjadi, ketika pasangan tersebut saling berjauhan, daya tarik akan keduanya akan muncul kembali karena perasaan negatif berkurang, namun ketika berdekatan, perasaan negatif akan muncul kembali. Jadi, gak heran kan kalo lihat teman kita yang putus-nyambung, putus-nyambung seperti itu?| By apRiL dari berbagai sumber
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 333 Comments (0)
![]() Write comment
|




